Langsung ke konten utama

RAWA LUMBU : Pemilih Tertinggi Di Pilkada Kota Bekasi

Pilkada serempak 27 Juni sudah usai pada Pilwalkot Bekasi dan Pilgub Jabar, mulai dari pleno terbuka tingkat Kelurahan maupun Kecamatan telah dilaksanakan, dan kini pada hari Kamis (5/7/2018) malam akan dilaksanakan pleno terbuka KPUD Kota Bekasi.

Pada pilkada serempak tahun 2018 ini tingkat partisipasi dalam Pilkada Pilwalkot dan Pilgub Jawa Barat, di Kecamatan Rawalumbu Kota Bekasi, meningkat cukup signifikan dalam tingkat partisipasi pemilihnya. Sehingga dalam pleno PPK Kecamatan Rawalumbu dengan estimasi awal mencapai 72, 79 persen dan setelah pleno PPK mencapai 72, 22 persen.

Kecamatan Rawalumbu memiliki total jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 123.269 jiwa dengan suara Sah warga yang mencoblos sebanyak 90.285 jiwa.

Sekretaris Camat (Sekcam) Rawalumbu, Dra. Sulastri, M.Si, mengatakan, dalam Pilkada yang sebelumnya tingkat partisipasi pemilih hanya 49,6 persen. “Alhamdulillah, pilkada 2018 ini Kecamatan Rawalumbu telah melebihi target dengan tingkat partisipasi pemilih hingga 72 persen lebih,” ungkapnya.

Sulastri, mengungkapkan keberhasilan dalam partisipasi masyarakat di Kecamatan Rawalumbu dalam memilih di pilkada tahun ini tak lepas dari sosialisasi pilkada mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan maupun Kecamatan itu sendiri.

“Sosialisasi pilkada ini juga dilakukan berbagai elemen masyarakat, baik itu Kader partai pendukung dan relawan kedua paslon. Pada intinya, jauh waktu kita selaku pihak pemerintahan tingkat kecamatan bersinegritas dengan KPUD secara masif melakukan sosialisasi,” terang Sulastri.

Selain itu, kecamatan rawalumbu bersama kelurahan juga melakukan pembinaan terhadap pegawainya untuk menyampaikan sosialisasi kepada warga, khusus warga yang sebelum hendak pulang kampung halaman di waktu Hari Raya Idul Fitri, yang masih di luar daerah Kota Bekasi atau di kampung halamannya. “Kita sampaikan ke warga agar nantinya segera lekas pulang karena nanti pilkada serempak pada 27 Juni untuk pelaksanaan Pilwalkot Bekasi dan Pilgub Jawa Barat, khususnya di Kecamatan Rawalumbu,” paparnya.

Lanjut, Sulastri menambahkan, menyikapi partisipasi masyarakat khususnya yang berada dilingkungan Perumahan Kemang Pratama Rawalumbu partisipasi masyarakatnya pada pilkada ini cukup meningkatkan. “Partisipasi pemilihnya mencapai 70 persen lebih,” ujarnya.

Melalui dirinya, Sulastri menghimbau, sedangkan untuk menghadapi pemilu legislatif dan Pilpres pada tahun 2019, masyarakat di ingatkan agar jangan golput dan gunakan hak pilihnya sesuai hati pilihannya untuk 5 tahun ke depan. “Pileg dan pilpres 2019 ada kemungkinan penambahan DPT, selain untuk pilpres pemilih dari domisili luar daerah dapat ikut menggunakan hak pilihnya di kota bekasi, juga diprediksi meningkatnya pemilih pemula,”.
(Firmansyah Mawero)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Jasanya turut dirasakan semua orang Indonesia, tapi tak satu pun dari kita tahu namanya. Sosok yang satu ini memang tidak banyak diketahui masyarakat luas. Namun jika melihat jasanya, tokoh bernama Winoto Danoeasmoro ini adalah termasuk orang kepercayaan dari Presiden Soekarno. Jasa lelaki kelahiran Purworejo saat menjadi sekretaris pribadi Ir. Soekarno tentu amatlah mendukung pencapaian berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak hanya sebagai sebagai sekertaris Ir. Soekarno, Winoto pun termasuk dalam pemuda yang terlibat membawa dua tokoh penting ke Rengasdengklok. Meski banyak perannya, nama Winoto tak banyak disorot sebab semasa hidup lelaki ini cukup jarang tampil di depan media dan jauh dari publikasi. Peran Penting Winoto Di Masa Sebelum Kemerdekaan Di antara peran penting Winoto adalah menjadi sekretaris pribadi Presiden Soekarno. Pria kelahiran 19 Oktober 1908 ini juga merupakan bagian dari tokoh pemuda yang turut serta dalam peristiwa Rengasdengklok. Per...

Atlantis Di Indonesia

Isu kejatidirian bangsa Indonesia, bahwa Indonesia adalah pusat peradaban dunia, semacam Atlantis, dalam pengamatan saya mengemuka dalam tiga tahun terakhir ini. Ini seiring dengan terbitnya terjemahan dua buku kontroversial, "Atlantis itu Indonesia" (Arysio Santos, 2009) dan "Eden in the East" (Stephen Oppenheimer, 2010) . Saya berandai-berandai, bila kedua buku itu tidak diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia, mungkin isu kejatidirian bangsa tak mengemuka serius sekarang, meskipun Soekarno sudah meneriakkan soal jati diri bangsa lebih dari 50 tahun yang lalu. Buku Atlantis itu kemudian melahirkan banyak buku lain tulisan orang-orang Indonesia yang umumnya mendukung bahwa Atlantis itu Indonesia. Beberapa kalangan pejabat atau tokoh masyarakat pun ramai-ramai mendukung tesis yang digulirkan Santos ini entah apa tujuannya, mungkin berusaha mengangkat jatidiri bangsa yang mungkin dalam pandangan mereka tengah merosot. Saya dengar sendiri itu diucapkan dari seora...